Selasa, 19 April 2016

Budidaya Bawang Merah



Related image(Allium ascalonicum) merupakan tanaman hortikultura musiman yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun pada saat-saat tertentu sering mengalami banjir produksi sehingga harganya anjlok. Diperparah lagi dengan kebijakan impor yang diterapkan pemerintah yang seringkali memperparah kejatuhan harga bawang merah di pasaranBawang merah
Untuk menghindari fluktuasi harga yang sangat merugikan petani, perlu upaya untuk melakukan budidaya bawang merah diluar musim. Seiring dengan pembatasan kegiatan budidaya di musim-musim puncak.
Budidaya bawang merah memerlukan penyinaran matahari lebih dari 12 jam sehari. Tanaman ini cocok dibudidayakan di dataran rendah dengan ketinggian 0 hingga 900 meter dari permukaan laut. Suhu optimum untuk perkembangan tanaman bawang merah berkisar 25-32 derajat celcius. Sedangkan keasaman tanah yang dikehendaki sekitar pH 5,6-7.
Kali ini alamtani mencoba menguraikan langkah-langkah teknis yang perlu disiapkan untuk melakukan usaha budidaya bawang merah. Cara menanam bawang merah ini disarikan dari pengalaman para petani bawang di Brebes, Jawa Tengah. Berebes merupakan salah satu sentra budidaya bawang merah terbesar di Indonesia.
Benih bawang merah
Varietas benih untuk budidaya bawang merah cukup banyak. Ada benih lokal hingga benih hibrida impor. Bentuk benihnya ada yang dari biji, ada juga berupa umbi. Kebanyakan budidaya bawang merah di sentra-sentra produksi menggunakan umbi sebagai benih.
Benih bawang merah yang baik berasal dari umbi yang dipanen tua, lebih dari 80 hari untuk dataran rendah dan 100 hari dataran tinggi. Benih bawang merah yang baik setidaknya telah disimpan 2-3 bulan. Ukuran benih sekitar 1,5-2 cm dengan bentuk yang bagus, tidak cacat, berwarna merah tua mengkilap.
Kebutuhan benih untuk budidaya bawang werah tergantung dengan varietas, ukuran benih dan jarak tanam. Untuk jarak tanam 20×20 dengan bobot umbi 5 gram dibutuhkan sekitar 1,4 ton benih per hektar. Untuk bobot yang sama dengan jarak tanam 15×15 dibutuhkan 2,4 ton per hektar. Bila bobot umbi lebih kecil, kebutuhan umbi per hektarnya lebih sedikit lagi.
Pengolahan tanah dan penanaman
Tanah dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2 meter, tinggi 20-30 cm dan panjang sesusai dengan kondisi kebun. Jarak antar bedengan 50 cm, sekaligus dijadikan parit sedalam 50 cm. Cangkul bedengan sedalam 20 cm, gemburkan tanahnya. Bentuk permukaan atau bagian atas bedengan rata, tidak melengkung.
Tambahkan kapur atau dolomit sebanyak 1-1,5 ton per hektar apabila keasaman tanah kurang dari pH 5,6. Penambahan kapur setidaknya diberikan 2 minggu sebelum tanam.
Gunakan 15-20 pupuk kompos atau pupuk kandang sebagai pupuk dasar. Tebarkan pupuk di atas bedengan dan aduk dengan tanah hingga merata. Bisa juga ditambahkan urea, ZA, SP-36 dan KCL sebanyak 47 kg, 100 kg, 311 kg dan 56 kg setiap hektarnya. Campur pupuk buatan tersebut sebelum diaplikasikan. Biarkan selama satu minggu sebelum bedengan ditanami.
Siapkan benih atau umbi bawang merah yang siap tanam. Apabila umur umbi masih kurang dari 2 bulan, lakukan pemogesan terlebih dahulu. Pemogesan adalah pemotongan bagian ujung umbi, sekitar 0,5 cm. Fungsinya untuk memecahkan masa dorman dan mempercepat tumbuhnya tananaman.
Jarak tanam untuk budidaya bawang merah pada saat musim kemarau dipadatkan hingga 15×15 cm. Sedangkan pada musim hujan setidaknya dibuat hingga 20×20 cm. Benih bawang merah ditanam dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi kedalam tanah.
Perawatan budidaya bawang merah
Penyiraman pada budidaya bawang merah hendaknya dilakukan sehari dua kali setiap pagi dan sore. Setidaknya hingga tanaman berumur 10 hari. Setelah itu, frekuensi penyiraman bisa dikurangi hingga satu hari sekali.
Pemupukan susulan diberikan setelah tanaman bawang merah berumur 2 minggu. Jenis pupuk terdiri dari campuran urea, ZA, dan KCl yang diaduk rata. Komposisi masing-masing pupuk sebanyak 93 kg, 200 kg dan 112 kg untuk setiap hektarnya. Pemupukan susulan selanjutnya diberikan pada minggu ke-5 dengan komposisi urea, ZA, KCl sebanyak 47 kg, 100 kg, 56 kg per hektar. Pemupukan diberikan dengan membuat garitan disamping tanaman.
Penyiangan gulma biasanya dilakukan sebanyak dua kali dalam satu musim tanam. Untuk menghemat biaya, lakukan penyiangan bersamaan dengan pemberian pupuk susulan. Namun apabila serangan gulma menghebat, segera lakukan penyiangan tanpa menunggu pemberian pupuk susulan.
Pengendalian hama dan penyakit
Budidaya bawang merah mempunyai banyak jenis hama dan penyakit. Namun yang paling sering menyerang di sentra-sentra produksi adalah hama ulat dan penyakit layu.
Hama ulat (Spodoptera sp.) menyerang daun, gejalanya terlihat bercak putih pada daun. Bila daun diteropong terlihat seperti gigitan ulat. Hama ini ditanggulangi dengan pemungutan manual, ulat dan telur diambil untuk dimusnahkan. Bisa juga dengan menggunakan feromon sex perangkap, gunakan sebanyak 40 buah per hektar. Bila serangan menghebat, kerusakan lebih dari 5% per rumpun daun, semprot dengan insektisida yang berbahan aktif klorfirifos.
Penyakit layu fusarium, disebabkan oleh cendawan. Gejalanya daun menguning dan seperti terpilin. Bagian pangkal batang membusuk. Penanganannya dengan mencabut tanaman yang mati kemudian membakarnya. Penyemprotan bisa menggunakan fungsidia.
Panen budidaya bawang merah
Ciri-ciri budidaya bawang merah siap panen apabila 60-70% daun sudah mulai rebah. Atau, lakukan pemeriksaan umbi secara acak. Khusus untuk pembenihan umbi, tingkat kerebahan harus mencapai lebih dari 90%.
Budidaya bawang merah biasanya sudah bisa dipanen setelah 55-70 hari sejak tanam. Produktivitas bawang merah dangat bervariasi tergantung dari kondisi lahan, iklim, cuaca dan varietas. Di Indonesia, produktivitas budidaya bawang merah berkisar 3-12 ton per hektar dengan rata-rata nasional 9,47 ton per hektar.
Umbi bawang merah yang telah dipanen harus dikeringkan terlebih dahulu. Penjemuran penjemuran bisa berlangsung hingga 7-14 hari. Pembalikan dilakuan setiap 2-3 hari. Bawang yang telah kering, kadar air 85%, siap untuk disimpan atau dipasarkan.

Tehnik Mudah Cara Budidaya Jagung Berkualitas Tinggi

 
Jagung (Zea mays ssp. Mays) adalah salah satu produsen tanaman pangan karbohidrat yang paling penting di dunia, selain gandum dan padi. Bagi penduduk Amerika Tengah dan Selatan, jagung biji-bijian adalah makanan pokok, seperti untuk sebagian besar penduduk Afrika dan beberapa daerah di Indonesia. Pada saat ini, jagung juga menjadi komponen penting dari pakan ternak. Penggunaan lainnya adalah sebagai sumber minyak dan bahan dasar tepung jagung dimakan. Berbagai produk yang berasal hasil jagung sebagai bahan baku untuk berbagai produk industri.
Dalam hal botani dan agronomi, tanaman jagung adalah model yang menarik, khususnya di bidang genetika, fisiologi, dan pemupukan. Sejak awal abad ke-20, tanaman ini menjadi objek penelitian genetik intensif. Dalam fisiologi, tanaman ini tergolong tanaman C4 sehingga sangat efisien memanfaatkan sinar matahari.
Dalam kajian agronomi, tanggapan jagung yang dramatis dan khas terhadap kekurangan atau keracunan unsur-unsur hara penting menjadikan jagung sebagai tanaman percobaan fisiologi pemupukan yang disukai.
Syarat Tumbuh
Tanaman jagung memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan tanah, kedua jenis tanah dan tanah lempung liat berpasir dengan pH 6 -8. Suhu optimum untuk pertumbuhan jagung antara 24-30 ° C.
Tanaman jagung pacta tumbuh membutuhkan 45-60 cm air. Ketersediaan air dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk buatan yang orang yg suka bersenda gurau untuk meningkatkan pertumbuhan akar, kerapatan tanaman serta untuk melindunginya dari gulma dan hama.
Persiapan Benih
·    Selalu mempergunakan benih segar yang berkualitas dengan tingkat berkecambahnya 85 %.
·    Gunakan varietas benih yang telah mengalami perbaikan clan diakui oleh Pemerintah, belilah benih dari perusahaan benih.
·                     Benih harns dari varietas yang cocok dengan kondisi setempat.
·                     Jumlah benih yang dianjurkan untuk setiap ha adalah 25 kg.
·                     Hindari terjadinya kecambah yangjelek, serangan serangga, penyakit, burung dan hewan pengerat.
Teknik Budidaya Jagung
Persiapan Lahan
·                     Pemberian pupuk alami dan kompos pada lahan.
·                     Buat bedengan rendah dengan jarak antar bedeng 75 cm.
Waktu Tanam dan Kedalaman Tanam
·                     Waktu tanam pada saat musim hujan tiba.
·                     Masukan 1 benih pada tiap lubang.
Kedalaman penanaman tergantung pada jenis tanah, kelembaban dan suhu. Dalam kondisi penanaman yang baik kedalaman ideal adalah 5 cm. Untuk berkecambah benar, setelah benih ditabur, benih-tekan dengan kaki ditekan. Benih bisa masuk lebih dalam di tanah berpasir ‘padatanah berlempung.
Tentukan lubang untuk pupuk dasar dengan menggunakan pupuk cangkir setelah benih ditaburkan. Pada suhu udara 24 -34 ° C dan kelembaban tanah yang ideal, benih jagung akan berkecambah 4 -5 hari setelah ditaburkan.
Pembersihan Lahan
Lahan yang akan di tanami jagung harus di bersihkan dari gulma tanaman dan di olah sesuai dengan kebutuhan. Misalnya di lakukan pembajakan, atau di olah dengan menggunakan cangkul dan lain sebagainya. Penolahan tanah juga dapat juga di buatkan bedengan untuk penamaman jagung dan pembuatan saluran irigasi untuk mempermudah saat musim pengairan tiba. Jika masa tanam pada saat musim penghujan tidak perlu lagi memberikan saluran irigasi untuk pengairan.
Aplikasi Herbisida
Jika herbisida untuk rumput/gulma di lahan tanpa olah tanah harus menggunakan herbisida sistemik. Herbisida sistemik rumput mematikan/gulma sampai keakarnya. Dosis herbisida bahan aktif per liter air yang tercantum pada label kemasan.
Dosis herbisida yang digunakan tergantung pada ketebalan rumput/gulma, biasanya digunakan dosis 3 liter/ha larutan semprot atau 400-500/ha. Tiga – empat hari setelah aplikasi herbisida dikendalikan re-rumput/gulma yang belum terkena semprotan. Satu minggu setelah aplikasi herbisida diikuti dengan menanam tanam.
Pembuatan Saluran Irigasi
Sebelum penanaman dimulai di daerah tadah hujan, pertama kali dibuat saluran irigasi di sekitar tanah dan setiap garis tanah spasi 2m dipotong menggunakan traktor tangan. Saluran ini berfungsi untuk mengairi tanaman saat kekurangan air. Berbeda dengan saluran drainase tanah dibuat kering untuk membuang kelebihan air di musim hujan. Dalam rangka untuk mendapatkan jarak 2m, pertama kali dibuat ukuran ditandai, sehingga saluran irigasi terbentuk lurus.
Penanaman
Satu minggu setelah penyemprotan rumput / gulma diikuti dengan menanam di mengangkat lebar penanaman tidur 2m (3 baris). Penanaman dilakukan dengan bor 2 biji / lubang. Selanjutnya, lubang tanam langsung ditutup dengan pupuk kandang akan mudah ditembus kecambah tanaman.
Fungsi lain dari pupuk kandang selain sebagai penutup lubang serta pupuk dari pabrik baru. Deretan tanaman yang dipotong parit / irigasi, harus diadakan parit perbaikan / irigasi dengan meluruskan parit dengan cangkul.
Satu minggu setelah tanam selesai penanaman kembali dengan bibit dari usia yang sama untuk menjadi pertumbuhan yang efektif. Dalam rangka untuk mendapatkan hidup benih, penanaman akhir pada lahan benih jagung dibibitkan dalam wadah yang telah disiapkan sebelumnya. Sehingga bibit di tanah dengan sisa bibit yang ditanam dalam wadah. Biji kecambah berdaya> 95% akan diperoleh populasi 66.000 tanaman / ha.
Penggunaan Jarak Tanam
Jarak yang digunakan disesuaikan dengan kondisi lapangan, sifat varietas dan musim. Pada kondisi tanah yang subur harus digunakan bukan lebih lebar dari jarak lahan kurang subur. Dalam subur pertumbuhan tanaman tanah lebih besar dari tanah yang kurang subur sehingga perlu ruang untuk tumbuh lebih luas.
Selain kesuburan tanah, ada varietas yang secara genetik memiliki kanopi lebar sehingga jarak yang digunakan lebih luas daripada genetik varietas memiliki kanopi yang sempit. Selain kesuburan tanah dan sifat genetik tanaman, musim juga menentukan penggunaan jaraknya. Pada musim hujan digunakan jarak lebar dari musim kemarau. Pada musim kemarau jarak digunakan lebih erat daripada di musim hujan.
Hal ini disebabkan kering penguapan air musim lebih tinggi dari musim hujan sehingga dapat mengurangi penguapan air yang digunakan jarak tanam rapat. Jarak yang umum digunakan adalah: 70-75cm x 20cm, 1 tanaman / lubang atau 70-75cm x 40cm, 2 tanaman / lubang dengan populasi = 66.000 untuk 71.000 tanaman / ha.
Atau menggunakan metode tanam legowo 90-40cm x 20cm, 1 tanaman / lubang atau 100-40cm x 40cm, 2 tanaman / lubang dengan populasi = 71.000-77.000 tan / ha. Penanaman dilakukan dengan drill dan tali jarak telah ditandai sesuai dengan ukuran yang akan digunakan. Berikut ditampilkan beberapa spasi digunakan di lapangan.
Penggunaan cara yang sangat efektif untuk legowo penanaman dilakukan untuk menujang indeks peningkatan tanam (IP) jagung di daerah tadah hujan. Metode penanaman Legowo selain menyediakan perbatasan.
Pemupukan
Pemupukan dilakukan agar tanaman tumbuh subur dan menghasilkan optimal. Pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk tunggal yaitu Urea sebagai pupuk N, SP-36 sebagai pupuk P dan KCl sebagai pupuk K. Sejak pupuk tunggal KCl tidak tersedia secara komersial, maka kotoran yang diambil dari pupuk majemuk kalium.
Pemupukan dilakukan dua kali, umur tanaman 10 dan 35 hari setelah tanam (HST) pada jenis tanah yang didominasi tanah liat dan tiga kali usia 7-10 hst, 28-30 dan 40-45 dap dap. di tanah yang didominasi pasir. Pemupukan ketiga menggunakan BWD untuk menentukan kebutuhan tanaman N. Dosis tunggal pupuk per hektar yang umum digunakan adalah 350 kg + 200 kg Urea SP-36 + 100 kg KCl.
Pupuk majemuk media yang digunakan per hektar adalah 400 kg NPK 15:15:15 + 270 kg + 80 kg Urea SP-36. Hybrid kebutuhan pupuk jagung lebih besar dibading jagung komposit. Berapa banyak dari N diperlukan untuk memcu pertumbuhan tanaman ditentukan melalui membaca BWD (Leaf Color Chart) pada umur tanaman 42-45 HST.
Pengairan
Tanaman jagung termasuk komoditas yang tidak memerlukan banyak air, tetapi jika ada kekurangan air segera irigasi. Jumlah air yang tanaman dipengaruhi oleh suhu udara, angin, jumlah air yang tersedia di tanah dan kelembaban. Jagung tanaman air tingkat penggunaan 400-500 ml / musim atau 6-7,5 ml / hari.
Pertumbuhan fase tanaman jagung yang perlu irigasi, yaitu: 1) fase pertumbuhan awal untuk 15-25 hari, 2) tahap fegetatif untuk 25-40 hari, 3) fase berbunga selama 15-20 hari, 4) fase mengisi benih untuk 35-45 hari dan 5) tahap pematangan untuk 10-25 hari. Tahan air di sawah yang ditanami jagung tanpa olah tanah teknologi lama dari teknologi pengolahan yang sempurna.
Model Pemberian Air
Ada beberapa model pemberian air tanaman jagung yaitu :
·                     Model genangan
·                     Model alur (furrow)
·                     Model bawah permukaan (sub surface)
·                     Model pancaran (sprinkler)
·                     Model tetes (drip).
Panen
Panen dilakukan apabila tanaman jagung memperlihatkan tanda – tanda :
·                     Kelobot sudah kering
·                     Umur panen sudah sampai (sesuai deskripsi)
·                     Apabila sudah terbentuk lapisan hitam pada dasar biji
·                     Sebagian daun berwarna kuning dan agak kering (Gumarang) kecuali varieas Bima (1-5) daunnya tetap hijau walau kelobot sudah tua (kering).
Dikutip dari sumber : sulbar.litbang.pertanian.go.id